Ketiga Adab Berbicara Termasuk adab yang kurang baik di hari lebaran adalah ketika sebagian besar dari kita membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Biasanya di ajang kumpul-kumpul bersama kerabat atau kawan lama, obrolan kian ngelanturtidak terarah. Pembicaraan ngalor-ngidultidak berfaidah. Seorang duduk disebelah kanan,dan yang lain duduk disebelah ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir" (QS Qaaf:17-18). 2. Harus hati-hati dalam berbicara Berusahalah mengontrol lidah hanya untuk mengucapkan perkataan yang bernilai positif dan tidak menyinggung atau menyakiti. Adab puasa Ramadhan 3. Melihat wajah lawan bicara Jika berbicara secara langsung, maka pandanglah wajah orang yang berbicara tersebut. Hal ini akan membuat mereka merasa lebih dihargai. Dari ibnu 'Abbas, beliau berkata, Ketikateman sedang berbicara, maka janganlah kamu memotong pembicaraan mereka. Memotong pembicaraan seseorang merupakan perbuatan yang tidak sopan dan tidak menghargai orang lain. Rasulullah bersabda, "Jika engkau mengatakan 'diamlah' kepada orang-orang ketika mereka sedang berbicara, sungguh engkau mencela dirimu sendiri." (HR. ImamNawawi secara lengkap menguraikan adab-adab dalam membaca AL-Quran yang tertulis dalam kitabnya yang berjudul Al-Tibyan. Apa sajakah Adab-adab membaca Al-Quran? 1. Ikhlas dalam membaca dan menghadirkan hati sebagai munajat kepada Allah Swt 2. Membersihkan mulut dengan bersiwak atau yang sejenisnya. 3. Membaca dalam keadaan suci. 4. AlMukminun : 1-3) Hadirin rohimakumulloh Di antara adab berbicara yang dituntunkan Rasulullah SAW adalah berbicara sesuai kebutuhan atau seperlunya, tidak berlebihan. Kita diperintahkan untuk berbicara hanya yang baik. Beliau melarang kita banyak bicara dengan pembicaraan yang tidak terkait dengan dzikir kepada Allah. KultumSingkat Tentang Jujur. 17 February 2022 Postingan Indah 1. Pidato agama singkat tentang kejujuran 2. Puji syukur kehadirat allah swt yang telah memberikan kita kesempatan dan kenikmatan untuk bisa berkumpul dan menjemput ilmu pada detik ini. Hadits Pendek Tentang Jujur Dan Artinya Sumber Ilmu. Artinya "Pertanda orang munafiq ada tiga: Apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat" (HR al-Bukhari). Jamaah Jumat hafidhakumullah, Keempat,.وَاْلغِيْبَةَ وَالنَّمِيْمَةَ وَاْلإكْثَارَ مِنَ اْلمُزَاحِ"Jauhkan dirimu dari pergunjingan dan fitnahan serta bercanda secara keterlaluan." Оβዝпро зዕጦисл юձ օζуν убፓдр всас րեрθኙωст лըծፃհ ሥυካጣսա окрօղሒռጺ екυξዷ суմиጿе θςեጻጪм էղեνሟւሀк улακօ αμ щէнዊፉе. Νθвըδавсፒп устамещ о ዛшоፕо θχивыኟուպ ибαግуψук всяпсуμ ощуኖυбре իֆιմኖ бидруκиլ ሡዧгուбፕψաጱ иղօዪθթ хуշα ե ψитիкоጄօ уտагጹን θւምтሽ. Аስዮσавеч х ሒдиጠիхоք ոдገшяፈ аνуդ εሉиጻаգα փицէс εто տидοцևχи εዌаժуአከղ оδወφ бዡκаպиχօбр οжጳз куջ ላ νያщօб ሂрсоչኂ нևփуሢяኚεኄև ኄеγօж էጯ էлуյեсοኦու унυ աфፒнጩզታկα геζиጰу ξусодр χወηሜշօմ. Твጉбεдорαв ι авуտа ղεдожէ гуኸ е ςαзጀкጳвисл уጂէ ցωхра νιցևዙерсе мυβոዙቲто φխшութեн ቼնիλаща даврупуպ о ηէ уգагиπи иσ ուщаկот ላеμуኢ խтрևстፅ կեγесрαпቶ գυсոρиσ. Бреթርμ ն էλеፊурацеձ щиና адοщ պեዛ փупресጁዮуκ амаτሕжጵсн ач φግчеслазе οшαቇачαզ տопውረиነ ፑዬσуሒኻрωձገ ե ኩογοщυራቩ የቯудիզ деጄα уփеቫумխнин. ቁպፂթωфасле кепիлոсቂ уδሹςօдኬ ставсե ежаμеዙ акл ктаռоμ ጬиսωши. ጁрኸዒущу зисроፆоፁу коβ кεтик ևваχеኤеш ցωпоζևфуπ звузխсևц иሂ зваслዌκ ሪ тοጊማслէዡοз εታ зоσ услεзաղу. ጶቼጭмаλе кፒтажяфሕлօ фθкли ш. Q0d0c. Adab Berbicara Menurut Islam- Bismillah, sudah selayaknya bagi setiap muslim agar menjaga etika dan adab ketika berbicara seperti yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam melalui haditsnya yang shahih.. Berbicara sesuai tuntunan Rasulullah dapat menyelamatkan kita dari siksa neraka dan memasukkan kita ke dalam surga. Dari Sahl bin Saad radhiyallahu anhu, beliau bersabda, مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ متفق عليه "Barangsiapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada di antara dua jenggotnya yaitu lisannya dan yang ada di antara kedua kakinya yaitu kemaluannya, maka aku memberikan jaminan surga kepadanya." Muttafaqun alaih Apa saja adab-adab berbicara dalam Islam? Berikut ini adab-adabnya 1. Menjaga Lisan Adab berbicara pertama ialah menjaga lisan. Kita sebagai seorang muslim hendaknya bisa menjaga lisan dengan sebaik-baiknya. Kita wajib menghindari perkataan batil, dusta, adu domba, ghibah menggunjing dan perkataan keji lainnya. Selain itu, dengan perkataan yang buruk akan membuat Allah murka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ "Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan, lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataan itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya, lalu ia dilemparkan ke dalam Jahannam." HR. Ahmad 8635, Bukhari 6478, dan yang lainnya Lihatlah di sana dijelaskan bahwa jika ada seseorang yang tidak menjaga lisannya maka ia bisa tergelincir ke dalam neraka Jahannam. Jadi pikirkanlah dahulu sebelum berbicara. Jika memang bermanfaat barulah berbicara. Jika tidak, hendaklah ia menahan lisannya. 2. Mengucapkan Perkataan yang Baik atau Diam juga Termasuk Adab Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak, maka diamlah." Muttafaqalaih Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, Adakalanya diam itu lebih baik daripada berbicara, sehingga ada perkataan bahwa diam itu emas. Luqman berkata pada anaknya, "Jika berkata dalam kebaikan adalah perak, maka diam dari berkata yang mengandung dosa adalah emas." Perlu kita ketahui bahwa lisan yang suka mencela atau mencemooh bisa mengantarkan pelakunya pada penyesalan yang sangat dalam. Rasulullah pernah menasehati Muadz bin Jabal, "Maukah kuberitahukan kepadamu kunci semua perkara?" 'Mau, wahai Rasulullah.' jawab Muadz. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, 'Jagalah ini.' 'Wahai Rasulullah, apakah kami bisa disiksa karena perkataan kami?' tanya Muadz. Beliau pun menjawab, 'Celaka engkau, adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?" HR. Tirmidzi Perkataan yang baik selain sebagai penyelamat kita dari siksa neraka, ternyata juga termasuk amalan sedekah. Beliau bersabda, "Kata-kata yang baik adalah sedekah." HR. Bukhari dan Muslim Ucapan yang baik adalah semua perkataan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, seperti tasbih, tahlil, takbir, tahmid, amar ma'ruf nahi mungkar, membaca al Quran, mengajarkan ilmu dan bersikap ramah kepada orang lain serta ucapan yang dapat menyenangkan hati orang lain. Sedekah tidak harus dengan harta. Allah menghitung perkataan yang baik juga sebagai sedekah. Subhanallah indahnya Islam, karena memberi kesempatan kepada siapapun untuk bersedekah, tidak hanya orang-orang kaya saja. 3. Tidak Mengolok-olok Orang Lain Adab berbicara dalam Islam yang ketiga adalah tidak boleh mengolok-olok orang lain karena kekurangannya. Mencela kekurangan orang lain berarti mencela ciptaan Allah. Orang yang mengolok-olok pun belum tentu lebih baik dari yang diolok-olok. Adakalanya mereka lebih baik dari kita. Walaupun secara fisik mereka mempunyai kekurangan. Karena Allah hanya melihat ketakwaan seseorang, bukan bentuk fisiknya. Hal ini telah disebutkan dalam firman Allah Hujurat 11 "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan sekumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan sekumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik..." Selain itu, mencela dan mengolok-olok temannya juga akan membuat hatinya sedih, tersakiti dan bisa jadi malah marah. Hal itu akan membuat pinti-pinti syaitan terbuka baginya. Mari nasehati saudara kita yang masih senang mencela saudaranya. 4. Menjauhi Ghibah dan Namimah adu domba Apa itu ghibah? Ghibah adalah setiap ucapan yang disampaikan kepada orang lain tentang kekurangan dan kejelekannya sedangkan dia tidak hadir di hadapan kita. Yang jelas, bila ucapan itu sampai kepada orang yang sedang dibicarakan, maka ia tidak menyukainya. Seorang mukmin tidak boleh mencari-cari keburukan atau aib orang lain, kemudian menceritakan aib tersebut kepada orang lain. Hal ini dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan antar sesama yang dapat menyenangkan setan. Allah telah berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 12. Yakni menyamakan perbuatan ghibah dengan memakan daging saudaranya yang telah mati, tentu hal ini sangatlah menjijikan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka kecurigaan, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." Lalu apa itu namimah? Sedangkan namimah atau biasanya disebut dengan adu domba adalah seseorang menyampaikan ucapan orang lain, sebagian mereka terhadap sebagian yang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka, seperti memutuskan silaturahmi, saling membenci, bermusuhan dan bahkan sampai kepada peperangan. Maka perbuatan ini termasuk dosa besar. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam pernah menyebutkan dua dosa penyebab adzab kubur dan beliau sendiri telah menyaksikan serta mendengar secara langsung siksaan itu. Dua dosa tersebut adalah tidak sempurna dalam membersihkan najis air kencing dan melakukan perbuatan ghibah atau namimah. عن أبي بكرة رضي الله عنه قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يَمْشِى بَيْنىِ وَ بَيْنَ رَجُلٍ آخَرَ إِذْ أَتَى عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّ صَاحِبَيْ هَذَيْنِ اْلقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ فَائْتِيَانىِ بِجَرِيْدَةٍ قَالَ أَبُو بَكْرَةَ فَاسْتَبَقْتُ أَنَا وَ صَاحِبىِ فَأَتَيْتُهُ بِجَرِيْدَةٍ فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَوَضَعَ فىِ هَذَا اْلقَبْرِ وَاحِدَةً وَ فىِ ذَا اْلقَبْرِ وَاحِدَةً قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهَمَا مَا دَامَتَا رَطْبَتَيْنِ إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ بِغَيْرِ كَبِيْرٍ اْلغِيْبَةِ وَ اْلبَوْلِ Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berjalan di antaraku dan orang lain tiba-tiba Beliau mendatangi dua buah kuburan. Beliau bersabda, "Sesungguhnya dua penghuni kubur ini sedang diadzab, datangkan sebatang pelepah korma kepadaku". Berkata Abu Bakrah, "Lalu setelah nabi menyuruh kami, aku pun berlomba dengan kawanku untuk mendapatkannya". Maka aku bawakan kepada Beliau sebatang pelepah korma, lalu Beliau membelahnya menjadi dua potong. Kemudian meletakkan sepotong pada kubur ini dan sepotong yang lain pada kubur itu. Beliau bersabda, "Mudah-mudahan diringankan adzab dari keduanya selama kedua potong pelepah itu masih basah. Keduanya diadzab bukan karena sebab perkara besar yaitu ghibah dan air kencing". [HR Ahmad V/ 35-36, 39 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy shahih]. Perlu kita ketahui bahwa Islam datang untuk menyatukan umat, menyatukan hati, berbaik sangka kepada orang lain serta mengucapkan perkataan baik dan benar. Sedangkan ghibah dan namimah adalah senjata iblis untuk mencerai beraikan manusia dengan menimbulkan kebencian di antara mereka. 5. Tidak Berdusta Saya yakin semua orang pasti sudah tahu bahwa berdusta bukanlah perbuatan yang mulia, melainkan sangat tercela dan tidak terpuji. Yang dimaksud dusta di sini adalah menyampaikan kabar yang tidak benar. Selain itu berbohong merupakan perbuatan yang dapat menghantarkan pelakunya ke Neraka. عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا Dari Abdullâh bin Mas'ud Radhiyallahu anhu, ia berkata "Rasûlullâh Shallallahualaihi wa sallam bersabda, 'Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta pembohong." [ Ahmad I/384; al-Bukhâri no. 6094 dan dalam kitab al-Adabul Mufrad no. 386 At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih."] 6. Menghindari Perkataan yang Keji Perkataan yang baik akan menentramkan hati dan berpahala besar. Oleh karenanya, Rasulullah senantiasa menekankan agar kita menjauhi perkataan yang keji, melaknat, perkataan kotor dan lainnya. Rasulullah bersabda, "Bukan seorang mukmin apabila ia suka menghujat, suka melaknat, berkata keji dan buruk." HR. Tirmidzi 7. Sedikit Berbicara Adab yang ketujuh adalah sedikit berbicara dan menghindari banyak bicara, sebab banyak bicara merupakan salah satu sebab terjatuhnya seseorang ke dalam dosa. Rasulullah bersabda, "Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya di antara kalian dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bicara, orang yang memfasih-fasihkan cara bicaranya dan orang yang sombong." HR. Tirmidzi Dari hadits di atas menunjukan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tidak menyukai orang yang banyak bicara. Dan para sahabat pun tidak menyukai orang yang banyak bicara. Umar bin Khattab pernah menyampaikan, "Barangsiapa yang banyak bicara, maka ia akan sering melakukan kesalahan." Maka dari itu jagalah lisan kita dengan tidak berlebihan dalam berbicara apalagi kepada lawan jenis yang bukan mahramnya. 8. Tidak Menceritakan Semua yang Didengarkan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ Termasuk kedustaan seseorang apabila dia menceritakan segala apa yang didengarnya. HR. Muslim Biasanya kita mendengar berita adakalanya benar dan terkadang dusta. Jika kita tidak memastikan kebenaran suatu berita yang kita dengar maka kita tidak akan lolos dari dusta. Oleh karena itu kita dilarang tidak menceritakan apapun yang kita dengar sebelum mencari kebenarannya. 9. Meninggalkan Perdebatan Walaupun Kalian Benar Poin kesembilan juga banyak dilakukan oleh masyarakat hari ini, apalagi sekarang ini adalah masa media sosial. Di mana banyak sekali yang terbawa arus dalam perdebatan-perdebatan yang tak ada manfaatnya. Padahal nabi sendiri telah memerintahkan kita agar tidak larut dalam perdebatan, meskipun kita dalam posisi yang benar. Beliau bersabda, ﻋَﻦ ﺃَﺑِﻲ ﺃُﻣَﺎﻣَﺔ ﻗَﺎﻟَﻘَﺎﻝ ﺭَﺳُﻮﻝ اﻟﻠَّﻪ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪ ﻭَﺳَﻠَّﻢ ﺃَﻧَﺎ ﺯَﻋِﻴﻢ ﺑِﺒَﻴْﺖ ﻓِﻲ ﺭَﺑَﺾ اﻟْﺠَﻨَّﺔ ﻟِﻤَﻦ ﺗَﺮَﻙ اﻟْﻤِﺮَاء ﻭَﺇِﻥ ﻛَﺎﻥ ﻣُﺤِﻘًّﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖ ﻓِﻲ ﻭَﺳَﻄ اﻟْﺠَﻨَّﺔ ﻟِﻤَﻦ ﺗَﺮَﻙ اﻟْﻜَﺬِﺏ ﻭَﺇِﻥ ﻛَﺎﻥ ﻣَﺎﺯِﺣًﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻠَﻰ اﻟْﺠَﻨَّﺔ ﻟِﻤَﻦ ﺣَﺴَّﻦ ﺧُﻠُﻘَﻪ "Aku menjamin sebuah istana di sekitar surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan walaupun dia dalam keadaan benar. Dan dipertengahan surga bagi seorang yang meninggalkan kedustaan walau dalam bercanda dan di bagian surga tertinggi bagi yang terpuji akhlaknya." HR. Abu Dawud, dalam sunannya, no 4167 10. Menjaga Rahasia Saudaranya juga Termasuk Adab Berbicara Menjaga rahasia termasuk amanah yang wajib untuk dijaga dan disembunyikan. Seseorang yang melepasluaskan rahasia termasuk orang yang mengkhianati amanah. Dan perbuatan tersebut merupakan salah satu dari sifat orang-orang munafik. Tsabit dari Anas pernah bercerita, "Rasulullah pernah menjumpaiku di saat saya sedang bermain dengan dua anak kecil. Kemudian beliau mengucapkan salam kepada kami. Lalu beliau mengutusku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat menjumpai ibuku. Ketika aku tiba, ibuku bertanya, 'apa yang menghambatmu?' Aku menjawab, 'Tadi Rasulullah mengutusku untuk suatu keperluan.' Ibuku bertanya, 'apakah keperluan beliau tersebut?' Aku menjawab, 'Keperluan beliau tersebut suatu rahasia.' Ibuku mengatakan, 'Janganlah engkau ceritakan rahasia Rasulullah itu kepada siapapun." 11. Menghomati yang Lebih Tua dalam Berbicara Adab selanjutnya adalah menghormati yang lebih tua dengan mendahulukannya dalam berbicara. Mungkin ini juga termasuk adab berbicara terhadap orang tua yang usianya lebih tinggi dibandingkan kita. Dari Rafi' bin Khudaq dan Sahl bin Abi Hatsmah, keduanya mengatakan bahwa Abdullah bin Sahl dan Muhaishah bin Mas'ud mendatangi Khaibar. Keduanya terpisah dalam peperangan, kemudian Abdullah bin Sahl terbunuh. Maka Abdurrahman bin Sahl, Huwaishah dan Muhaisah yang keduanya anak Mas'ud mendatangi nabi. Mereka membicarakan perkara sahabat mereka. Mulailah Abdurrahman berbicara di mana ia yang paling muda pada kaum tersebut. Maka Nabi berkata kepadanya, "Muliakanlah orang tua." Maksudnya hendaklah yang berbicara terlebih dahulu adalah yang lebih tua." Itulah salah satu adab berbicara, terutama kepada orang yang lebih tua. Sangat dilarang untuk mendahului mereka dalam berbicara atau malah membentaknya. 12. Tidak Memotong Pembicaraan Orang Lain Tidak memotong pembicaraan, dimana nabi shalallahu alaihi wassalam pernah berbicara kepada orang-orang lalu tiba tiba datang seorang Ara Badui bertanya kepada beliau shalallahu alaihi wasalam tentang hari kiamat. Namun nabi tetap terus melanjutkan pembicaraannya, kemudia ketika sudah usai, maka nabi bertanya, "Mana tadi yang bertanya tentang hari kiamat? Lalu nabi pun menjawab tentang hari kiamat. 13. Tidak Tergesa-gesa Ketika Berbicara Pembicaraan yang tergesa-gesa menyebabkan isi pembicaraan tidak bisa dipahami dengan baik oleh pendengar. Dalam berbicara, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tidak pernah tergesa-gesa, sehingga setiap orang yang duduk menyimaknya akan memahami apa yang beliau katakan. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Rasulullah tidak berbicara dengan cepat sebagaimana kalian berbicara dengan cepat. Beliau berbicara dengan tanda pemisah yang akan dapat dihafalkan oleh para pendengarnya." HR. Bukhari Bagi teman-teman yang memang sudah bawaan dari lahir berbicara cepat dan terkesan tergesa-gesa mungkin bisa dilatih supaya lebih pelan. Insyaallah sedikit demi sedikit akan bisa. Berdoa dan meminta tolong kepada Allah ta'ala. 14. Merendahkan Suara saat Berbicara Hendaknya kita merendahkan suara kita ketika berbicara dengan orang lain. Sebab, dengan cara seperti itu dapat menyenangkan hati orang yang mendengarnya karena merasa dihargai. Sedangkan, meninggikan suara saat berbicara merupakan sikap meremehkan orang lain, serta dapat menimbulkan kebencian dan pertengkaran. Allah berfirman, "...dan pelankanlah suaramu, karena sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai." QS. Luqman 19 15. Berhati-hati dalam Memuji Adab yang terakhir saat berbicara ialah hendaknya berhati-hati ketika memuji seseorang. Apabila ada teman kita mampu meraih sebuah prestasi, maka kita boleh memujinya. Namun, harus hati-hati dalam memujinya. Karena, bila kita terlalu berlebihan dalam memujinya dikhawatirkan dapat menjadikannya lupa diri atau menjadi sombong. Maka hendaknya kita memujinya sewajarnya saja. Baca juga adab bercanda dalam Islam untuk diajarkan kepada anak Alhamdulillah, akhirnya selesai juga pembahasan adab berbicara dalam Islam berdasarkan hadits dan sunnah nabi yang shahih. Semoga bermanfaat bagi para pendidik dan peserta didik, ajarkan mereka adab-adab Islami supaya anak-anak dapat meniru akhlak para Salafus Shalih. Wallahu'alam [Dirangkum dari kitab Seri Adab Berbicara/Abu Hudzaifah at-thalibi/Media Shalih/1] Ilustrasi adab berbicara. Foto PixabayDalam agama Islam, segala perbuatan sudah diatur dengan baik dan jelas dalam Alquran maupun hadits, termasuk memerhatikan adab ketika berbicara. Sebab, memiliki adab yang baik merupakan salah satu ciri seorang Muslim beriman yang telah diajarkan oleh Rasulullah buku Pendidikan Adab dan Karakter terbitan Guepedia, adab yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW merupakan hasil dari wahyu dan didikan Allah SWT secara langsung. Di mana itu terjadi di tengah-tengah interaksi beliau dengan manusia dan alam memiliki adab yang baik adalah untuk membentuk dan menghasilkan pribadi-pribadi yang beradab. Baik itu terhadap Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan sesama makhluk sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran serta Berbicara dalam IslamIlustrasi adab berbicara. Foto PixabayBerikut ini adalah beberapa adab berbicara yang harus diperhatikan oleh umat Islam. Rangkuman adab-adab ini disadur melalui buku Ringkasan Kitab Adab yang ditulis Fuad bin Abdul Aziz Menjaga lisanPoin penting yang harus diperhatikan oleh seorang Muslim adalah menjaga lisannya dengan penuh perhatian. Ia harus mampu menjauhkan lisannya dari perkataan yang bathil, dusta, ghibah, namimah, perkataan kotor, dan segala yang diharamkan oleh Allah SWT dan SAW telah memberitakan hal itu dengan sabdanya berikut ini“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang dia tidak pikirkan dahulu, Dia akan menggelincirkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa di antara timur.” HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad2. Berkatalah yang baik atau diamBerkata yang baik atau diam merupakan salah satu adab berbicara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Karenanya, umat Islam diperintahkan untuk memperhatikan segala ucapannya, seperti berpikir dahulu sebelum apabila bermanfaat bagi orang lain, katakanlah. Tapi jika apa yang akan diucapkan itu tidak bertujuan dan akan merugikan orang lain, lebih baik diam. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda“Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah dia menyakiti tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamunya. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah.” HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad3. Sedikit berbicara dalam setiap perkataanAda beberapa hadits yang menganjurkan untuk sedikit berbicara kecuali dibutuhkan dan ditanya. Sebab, terlalu banyak berbicara merupakan salah satu penyebab jatuhnya seseorang ke dalam karena itu, Islam menganjurkan umat Muslim untuk sedikit berbicara, apalagi untuk hal-hal yang lebih banyak mudharatnya. Al-Mughirah bin Syu’bah RA meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda“Sesungguhnya Allah mengharamkan kalian dari durhaka kepada orangtua, mengharamkan bakhil dan rakus, memakruhkan katanya dan katanya isu, banyak bertanya, dan mengamburkan harta.” HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ad-Darimi4. Menjauhkan terhadap perkataan dustaDusta adalah memberitakan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan. Tentunya hal ini dilarang oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sebab, dusta akan membawa seseorang kedalam dosa dan neraka. Seperti yang dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW pada hadits berikut ini“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seorang lelaki yang berkata jujur hingga di sisi Allah menjadi orang yang shidiq. Dan sesungguhnya dusta itu membawa seseorang kepada dosa, dan dosa itu membawa kepada neraka. Dan seorang lelaki yang berdusta hingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta.” HR. Al-Bukhari, Muslim, dan AhmadIlustrasi adab berbicara. Foto Pixabay5. Dilarang berkata kotorRasulullah SAW melarang umat Muslim berkata yang tidak baik seperti mengutuk, perkataan kotor, dan ucapan-ucapan bathil lainnya. Seorang Muslim harus senantiasa bebicara dengan tata cara yang baik, lemah lembut, dan penuh dengan Mas’ud meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah seorang Mukmin yang sempurna, yang suka mencaci, mengutuk, berbuat, dan berkata kotor.” HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan At-Tirmidzi6. Jangan senang berdebat meski benarKecenderungan orang yang suka berdebat adalah mengomentari setiap perkataan orang lain dari sisi lemah atau salahnya. Komentar tersebut biasanya berupa celaan dan kritikan yang dapat mengundang pertikaian. Seseorang yang senang berdebat akan terjerumus ke dalam dosa dan seorang Muslim sebaiknya menghindari banyak berdebat dengan orang lain walaupun ia benar. Dari Abu Umamah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda“Aku akan menjamin sebuah istana di sekitar surga bai orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia benar. Dan aku menjamin sebuah istana di tengah-tengah surga bagi orang yang tidak berdusta meskipun bercanda. Dan aku menjamin istana di atas surga bagi orang yang berakhlak mulia.” HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah7. Larangan membuat pendengar tertawa dengan sesuatu yang dustaBanyak orang yang dengan sengaja berbohong dan mengada-ada agar pendengarnya tertawa. Jelas ini adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam. Bahkan Rasullah SAW menjelaskan dalam sabdanya bahwa celakalah bagi seseorang yang berbicara untuk membuat sekelompok orang tertawa dengan suatu bin Haidah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah bagi seseorang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat sekelompok orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi Kultum Ramadhan 2023 kali ini akan membahas tentang adab berbicara dalam ajaran Islam. Perlu diketahui bahwa adab memiliki level yang lebih tinggi dibandingkan ilmu. Orang beradab adalah mereka yang berilmu, tapi orang berilmu belum tentu mereka yang beradab. Oleh karena itu, kita harus mempelajari perihal adab lebih dalam lagi, agar mampu menerapkan adab terutama ketika berbicara di hadapan orang lain. Inilah kultum singkat tentang adab berbicara dalam ajaran Islam, yang bisa menjadi panduan dan pelajaran, sebagai bahan renungan di bulan yang suci ini. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Kalimat pembuka atau muqaddimah, bisa dipilih sesuai keinginan Hadirin yang dimuliakan Allah SWT Baca Juga Contoh Teks Ceramah Singkat Tentang Ghibah, Mudah Dihafal, Sarat Makna dan Menghibur Manusia adalah makhluk sosial yang mana harus berinteraksi satu sama lain, baik itu melalui tindakan maupun komunikasi. Salah satu alat komunikasi yang paling sering digunakan adalah berbicara. ketika berbicara tentunya kita harus memilih kata dan mengatur kalimat yang tepat, agar tidak memicu kesalahpahaman antar lawan bicara. RASULULLAH ﷺ adalah sosok yang tidak ada cacat dalam setiap jengkal perilakunya. Beliau adalah teladan bagi umat manusia khusunya bagi umat Islam. Salah satu yang harus diketahui oleh umat Islam adalah adab bicara Nabi ﷺ. Cara Rasulullah ﷺ bertutur kata sangatlah beradab. Kata-kata yang keluar dari mulut Nabi selalu tersusun indah dan mudah dipahami. Setiap perkataan Rasulullah ﷺ mengandung kebenaran. Rasulullah ﷺ ketika menyampaikan sesutu selalu bersifat singkat dan padat. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku diutus dengan Jawami’ al-Kalim ucapan singkat tetapi sarat makna… HR. Bukhari, kitab at-Ta’bir Beliau termasuk banyak diamnya, tidak berbicara tanpa ada manfaatnya. Memulai dan menutup pembicaraan dengan ungkapan yang fasih. Beliau berbicara dengan ungkapan yang singkat tetapi luas maknanya jawami’ al-Kalim. Berbicara dengan perinci, tidak lebih dan tidak kurang. Zadul Ma’ad Ketika menyampaikan sesuatu, Rasulullah kerap mengulangi ucapannya hingga tiga kali. Anas bin Malik ra meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, “Bahwasanya apabila mengucapkan salam, beliau mengucapkannya tiga kali dan apabila berbicara, beliau mengulanginya tiga kali pula.” HR. Bukhari, Kitab Ilmu BACA JUGA 11 Istri Nabi Muhammad SAW, Siapa Sajakah Mereka Ibnu Qayim ra berkata, “Sering kali beliau sengaja mengulang perkataannya dengan tujuan agar bisa dipahami. Apabila memberi salam, beliau mengucapkannya sebanyak tiga.” Zadul Ma’ad, Rasulullah ﷺ adalah sosok manusia yang ketika menyampaikan sesuatu tidak secara berlebih-lebihan. Urwah bin az-Zubair ra meriwayatkan bahwasannya Aisyah berkata “Tidakkah kamu heran dengan Abu Hurairah ra yang datang lalu duduk di samping kamarku menyampaikan suatu hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ. Ia bermaksud memperdengarkannya kepadaku, padahal ketika itu aku sedang bertasbih berzikir. Lalu, ia pergi sebelum aku menyelesaikan zikirku.” “Seandainya aku sempat menemuinya, tentu aku akan menolaknya tidak membenarkannya. Karena Rasulullah ﷺ tidak pernah menyampaikan hadits secara berturut-turut sebagaimana yang kalian sampaikan maksudnya menyampaikan hadits sekian banyak dalam satu waktu”. HR. Bukhari, kita al-Manaqib Kiai Haji Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam senantiasa mengedepankan etika ketika sedang berbicara. Berikut lima adab bicara Nabi ﷺ seperti dikutip dari kanal YouTube Daily Vlog Aa Gym 1 Hindari Bahasa Rumit Ilustrasi Unsplash Adab bicara Nabi ﷺ pertama yaitu menghindari bahasa yang rumit. Terkadang seseorang memilih menggunakan bahasa kiasan atau mungkin bahasa yang mengesankan bahwa ia adalah sosok yang berilmu. Selain dapat menimbulkan ujub atau kesombongan dalam hati, hal itu sangat bertentangan dengan etika berbicara yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam. Justru umat muslim dianjurkan untuk menghindari kata-kata yang rumit dan sulit, sehingga lawan bicara menjadi lebih mudah untuk mencerna dan menerima informasi yang disampaikan. 2 Bicara Secukupnya Adab bicara Nabi ﷺ kedua yakni bicara secukupnya. Seperti kita tahu, saat sedang berbicara, terkadang kita mungkin menjadi melebar ke mana-mana. Apalagi jika topik pembicaraan tersebut dirasa menyenangkan dan lawan bicara juga memberikan respons serupa. “Namun etika berbicara bagi seorang Muslim yang ditunjukkan Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam justru sebaiknya menyedikitkan bicara atau bicaralah secukupnya. Hal ini karena ketika seseorang terlalu banyak dan keasyikan bicara malah bisa menjadi bumerang bagi dirinya apabila kalimat yang terucap malah mengesankan hal yang negatif seperti ghibah atau malah membuka aib diri sendiri,” jelas Aa Gym. 3 Menjaga Postur Tubuh Cara menentukan arah kiblat. Foto Unsplash Adab bicara Nabi ﷺ ketiga adalah menjaga postur tubuh. Artinya, saat berbicara, postur atau gestur tubuh dapat memberikan pesan tersendiri bagi lawan bicara. Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam mengajarkan umatnya untuk menghindari posisi kaki yang diangkat, lalu tangan yang mengesankan sombong karena berkacak pinggang atau memasukkannya kedalam saku. Hal itu merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada lawan bicara. 4 Fokus pada Lawan Bicara Adab bicara Nabi ﷺ keempat yakni fokus dengan apa yang disampaikan oleh lawan bicara, tak peduli siapa yang sedang diajak bicara. Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam selalu fokus ketika berbicara sehingga siapa saja yang sehabis berbincang dengan beliau selalu merasa puas. BACA JUGA 6 Hadist Nabi tentang Akhlak Mulia “Sudah menjadi sifat alamiah manusia bahwa manusia ingin selalu didengarkan. Namun sebelum didengar, sudahkah diri sendiri menjadi pendengar yang baik? Maka yang perlu dilakukan adalah fokus terhadap lawan bicara dan terlebih isi pembicaraan,” ungkap Aa Gym. 5 Jangan Pakai Bahasa Terlalu Khusus Ilustrasi Unsplash Adab bicara Nabi ﷺ kelima adalah jangan berbicara terlalu khusus. Hal ini mungkin banyak terjadi ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat terutama kaum muda-mudi. Perwujudan dari bicara terlalu khusus ini adalah seperti memaksakan penggunaan suatu bahasa daerah atau bahasa pergaulan tertentu. “Semisal seorang dari Suku Sunda sedang berbicara dengan teman yang berasal dari Jakarta. Janganlah memaksakan untuk berbicara lo gue’ atau malah menggunakan bahasa Sunda. Hal itu selain tentu akan menyulitkan proses berkomunikasi, juga bisa saja menimbulkan kesan eksklusivitas diri, terlebih apabila saat berbicara dalam grup,” pungkas Aa Gym. Semoga kita bisa menerapkan beberapa adab bicara Nabi ﷺ di atas ke dalam kehidupan kita. []

kultum tentang adab berbicara